BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Suatu sistem
pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses belajar-mengajar berlangsung
secara menarik dan menantang sehingga peserta didik dapat belajar sebanyak
mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang
bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan
pembangunan. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun
dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta
didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal,
diharapkan akan dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai
pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang terus berkembang.
Untuk mencapai
tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pendidikan yang dapat
memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Manajemen pendidikan itu terkait
dengan manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga
pelaksanaannya. Fakta-fakta dilapangan ditemukan sistem pengelolaan anak didik
masih menggunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankan pengembangan
kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberi perhatian kepada
pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal Kreativitas disamping
bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga merupakan kebutuhan akan
perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia.
Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat
dugaan tentang kekurangan, menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian
mengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada akhirnya menyampaikan hasilnya.
Dengan adanya kreativitas yang diimplementasiakan dalam sistem pembelajaran,
peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide yang berbeda dalam
memecahkan masalah yang dihadapi sehingga ide-ide kaya yang progresif dan
divergen pada nantinya dapat bersaing dalam kompetisi global yang selalu
berubah.
Perkembangan
anak didik yang baik adalah perubahan kualitas yang seimbang baik fisik maupun
mental. Tidak ada satu aspek perkembangan dalam diri anak didik yang dinilai
lebih penting dari yang lainnya. Oleh karena itu, teori kecerdasan majemuk yang
dikembangkan oleh psikolog asal Amerika Serikat, Gardner dinilai dapat memenuhi
kecenderungan perkembangan anak didik yang bervariasi.
Penyelenggaraan
pendidikan saat ini harus diupayakan untuk memberikan pelayanan khusus kepada
peserta didik yang mempunyai kreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda
agar tujuan pendidikan dapat diarahkan menjadi lebih baik.
Muhibbin Syah
menjelaskan bahwa akar kata dari pendidikan adalah "didik" atau
"mendidik" yang secara harfiah diartikan memelihara dan memberi
latihan. Sedangkan "pendidikan", merupakan tahapan-tahapan kegiatan mengubah
sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang melalui upaya pelatihan dan
pengajaran. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan tidak dapat lepas dari
pengajaran. Kegiatan dari pengajaran ini melibatkan peserta didik sebagai
penerima bahan ajar dengan maksud akhir dari semua hal ini sesuai yang
diamanatkan dalam undang-undang no. 20 tentang sisdiknas tahun 2003; agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam
pendidikan, peserta didik merupakan titik fokus yang strategis karena
kepadanyalah bahan ajar melalui sebuah proses pengajaran diberikan. Sebagai
seorang manusia menjadi sebuah aksioma bahwa peserta didik mempunyai kelebihan
dan kekurangannya masing-masing, mereka unik dengan seluruh potensi dan
kapasitas yang ada pada diri mereka dan keunikan ini tidak dapat diseragamkan
dengan satu aturan yang sama antara peserta didik yang satu dengan peserta
didik yang lain, para pendidik dan lembaga sekolah harus menghargai perbedaan
yang ada pada diri mereka. Keunikan yang terjadi pada peserta didik memang
menimbulkan satu permasalahan tersendiri yang harus diketahui dan dipecahkan
sehingga pengelolaan murid (peserta didik) dalam satu kerangka kerja yang
terpadu mutlak diperhatikan, terutama pertimbangan pada pengembangan
kreativitas, hal ini harus menjadi titik perhatian karena sistem pendidikan
memang masih diakui lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang
sempit dan kurang memberikan perhatian kepada pengembangan kreatif peserta
didik. Hal ini terjadi dari konsep kreativitas yang masih kurang dipahami
secara holistic, juga filsafat pendidikan yang sejak zaman penjajahan
bermazhabkan azas tunggal seragam dan berorientasi pada
kepentingan-kepentingan, sehingga pada akhirnya berdampak pada cara mengasuh,
mendidik dan mengelola pembelajaran peserta didik.
Kebutuhan akan
kreativitas tampak dan dirasakan pada semua kegiatan manusia. Perkembangan
akhir dari kreativitas akan terkait dengan empat aspek, yaitu: aspek pribadi,
pendorong, proses dan produk. Kreativitas akan muncul dari interaksi yang unik
dengan lingkungannya.Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya
masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan
mengujinya. Proses kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan
(motivasi intristik) maupun dorongan eksternal. Motivasi intrinstik ini adalah
intelegensi, memang secara historis kretivitas dan keberbakatan diartikan
sebagai mempunyai intelegensi yang tinggi, dan tes intellejensi tradisional
merupakan ciri utama untuk mengidentifikasikan anak berbakat intelektual tetapi
pada akhirnya hal inipun menjadi masalah karena apabila kreativitas dan
keberbakatan dilihat dari perspektif intelejensi berbagai talenta khusus yang
ada pada peserta didik kurang diperhatikan yang akhirnya melestarikan dan
mengembang biakkan Pendidikan tradisional konvensional yang berorientasi dan sangat
menghargai kecerdasan linguistik dan logika matematik. Padahal, Teori psikologi
pendidikan terbaru yang menghasilkan revolusi paradigma pemikiran tentang
konsep kecerdasan diajukan oleh Prof. Gardner yang mengidentifikasikan bahwa
dalam diri setiap anak apabila dirinya terlahir dengan otak yang normal dalam
arti tidak ada kerusakan pada susunan syarafnya, maka setidaknya terdapat
delapan macam kecerdasan yang dimiliki oleh mereka.
Salah satu cara
dalam memecahkan masalah ini adalah pengelolaan pelayanan khusus bagi anak-anak
yang punya bakat dan kreativitas yang tinggi, hal ini memang telah diamanatkan
pemerintah dalam undang-undang No.20 tentang sistem pendidikan nasional 2003,
perundangan itu berbunyi " warga negara yang memiliki kelainan fisik,
emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan
khusus".
Pengertian dari
pendidikan khusus disini merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta
didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa
yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan-pendidikan
khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pada akhirnya memang
diperlukan adanya suatu usaha rasional dalam mengatur persoalan-persoalan yang
timbul dari peserta didik karena itu adanya suatu manajemen peserta didik
merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
Siswa berbakat
di dalam kelas mungkin sudah menguasai materi pokok bahasan sebelum diberikan.
Mereka memiliki kemampuan untuk belajar keterampilan dan konsep pembelajaran
yang lebih maju. Untuk menunjang kemajuan peserta didik diperlukan modifikasi
kurikulum. Kurikulum secara umum mencakup semua pengalaman yang diperoleh
peserta didik di sekolah, di rumah, dan di dalam masyarakat dan yang
membantunya mewujudkan potensi-potensi dirinya. Jika kurikulum umum bertujuan
untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan pada umumnya, maka saat ini haruslah
diupayakan penyelenggaraan kurikulum yang berdiferensi untuk memberikan
pelayanan terhadap perbedaan dalam minat dan kemampuan peserta didik. Dalam
melakukan kurikulum yang berbeda terhadap peserta didik yang mempunyai potensi
keberbakatan yang tinggi, guru dapat merencanakan dan menyiapkan materi yang
lebih kompleks, menyiapkan bahan ajar yang berbeda, atau mencari penempatan
alternatif bagi siswa. Sehingga setiap peserta didik dapat belajar menurut
kecepatannya sendiri.
Dalam paradigma
berpikir masyarakat Indonesia tentang kreativitas, cukup banyak orangtua dan
guru yang mempunyai pandangan bahwa kreativitas itu memerlukan iklim
keterbukaan dan kebebasan, sehingga menimbulkan konflik dalam pembelajaran atau
pengelolaan pendidikan, karena bertentangan dengan disiplin. Cara pandang ini
sangatlah tidak tepat. Kreativitas justru menuntut disiplin agar dapat
diwujudkan menjadi produk yang nyata dan bermakna. Displin disini terdiri dari
disiplin dalam suatu bidang ilmu tertentu karena bagaimanapun kreativitas
seseorang selalu terkait dengan bidang atau domain tertentu, dan kreativitas
juga menuntut sikap disiplin internal untuk tidak hanya mempunyai gagasan
tetapi juga dapat sampai pada tahap mengembangkan dan memperinci suatu gagasan
atau tanggungjawab sampai tuntas.
Masa depan
membutuhkan generasi yang memiliki kemampuan menghadapi tantangan dan perubahan
yang terjadi dalam era yang semakin mengglobal. Tetapi penyelenggaraan
pendidikan di Indonesia saat ini belum mempersiapkan para peserta didik dengan
kemampuan berpikir dan sikap kreatif yang sangat menentukan keberhasilan mereka
dalam memecahkan masalah.
Kebutuhan akan
kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikan dewasa ini dirasakan merupakan
kebutuhan setiap peserta didik. Dalam masa pembangunan dan era yang semakin
mengglobal dan penuh persaingan ini setiap individu dituntut untuk
mempersiapkan mentalnya agar mampu menghadapi tantangan-tantangan masa depan.
Oleh karena itu, pengembangan potensi kreatif yang pada dasarnya ada pada
setiap manusia terlebih pada mereka yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar
biasa perlu dimulai sejak usia dini, Baik itu untuk perwujudan diri secara
pribadi maupun untuk kelangsungan kemajuan bangsa.
Dalam
pengembangan bakat dan kreativitas haruslah bertolak dari karakteristik
keberbakatan dan juga kreativitas yang perlu dioptimalkan pada peserta didik
yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Motivasi internal
ditumbuhkan dengan memperhatikan bakat dan kreativitas individu serta
menciptakan iklim yang menjamin kebebasan psikologis untuk ungkapan kreatif
peserta didik di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.
Merupakan suatu
tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia untuk dapat membina
serta mengembangkan secara optimal bakat, minat, dan kemampuan setiap peserta
didik sehingga dapat mewujudkan potensi diri sepenuhnya agar nantinya dapat
memberikan sumbangan yang bermakna bagi pembangunan masyarakat dan negara.
Teknik kreatif ataupun taksonomi belajar pada saat ini haruslah berfokus pada
pengembangan bakat dan kreativitas yang diterapkan secara terpadu dan
berkesinambungan pada semua mata pelajaran sesuai dengan konsep kurikulum
berdiferensi untuk siswa berbakat. Dengan demikian diharapkan nantinya akan
dihasilkan produk-produk dari kreativitas itu sendiri dalam bidang sains,
teknologi, olahraga, seni dan budaya.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
uraian di atas, maka permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini adalah
1. Apa
masalah yang terkait dengan peserta didik?
2. Bagaimana
solusi yang digunakan untuk mengatasi masalah yang terkait dengan peserta
didik?
3. Bagaimana
kondisi akhir yang diharapkan setelah diberikan solusi terhadap masalah yang
terkait?
C.
Tujuan
Adapun
tujuan yang ingin dicapai pada makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Masalah
yang terkait dengan peserta didik.
2. Solusi
yang digunakan untuk mengatasi masalah yang terkait dengan peserta didik.
3. Kondisi
akhir yang diharapkan setelah diberikan solusi terhadap masalah yang terkait.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Penyebab
Siswa Mengalami Kegagalan Selama Proses Belajar Mengajar
Banyak hal yang
menyebabkan peserta didik mengalami masalah selama proses belajar mengajar
berlangsung diantaranya yaitu:
1.
Anak
sulit memahami
Penyebab
anak sulit memahami disebabkan oleh banyak faktor yang memungkinkan seperti:
a. Faktor
Lingkungan
Faktor lingkungan sangat mempengaruhi, dari
pergaulan anak selama ini banyak gejala yang ditemukan disekitar kita kerena
faktor lingkungan sanagt mempengaruhi psikologi anak atau sikap, dibalik itu
awal fundamental pendidikan anak harus kuat dan mendasar mulai dari lingkungan
anak itu sendiri karena pembentukan awal karakter anak mulai dari lingkungan
mereka itu sendiri yaitu lingkungan keluarga, apabila anak itu sudah disiplin
tempat lingkungan mereka hidup terutama tatanan kehidupan dimulai dari
lingkungan keluarganya sendiri sudah tertata maka anak itu akan terbawa pada
lingkungan yang formal, tempat mereka menimba ilmu pengetahuan.
b. Kondisi
kelas yang tidak nyaman dan kodusif
Kondisi kelas yang tidak nyaman dan kondusif juga
sangat mempengaruhi dalam prosese belajar mengajar. Misalnya saja kelas yang
berdekatan dengan jalan raya, sehingga menimbulkan keributan dan mengganggu
konsentrasi anak dalam belajar sehinggan anak kurang memperhatikan pelajaran.
2.
Anak
yang Bodoh
Sebenarnya
tidak ada anak yang bodoh, melainkan anak tersebut hanya malas dalam belajar
sehingga menyebabkan anak tersebut bodoh. Hal ini dapat terjadi dikarenakan
anak tersebut malas/kurang dalam belajar, kurang disiplin, kurang memanfaatkan
waktu, kurang memeperhatikan, kurang mengulangi pelajaran, tidak ada rasa
percaya diri, dan banyak bermain/menyampingkan pelajaran sehingga menyababkan
anak tersebut bodoh.
3.
Anak
yang Nakal
Anak
yang nakal juga biasanya sering kali mengalami kegagalan dalam belajar. Hal ini
disebabkan karena pengaruh kingkungan yang kurang baik sehingga memberikan
dampak buruk bagi anak. Selain itu kurangnya perhatian dari orang tua terhadap
anak juga merupakan faktor yang menyebabkan anak menjadi nakal karena tidak ada
yang mengontrol aktivitas yang dilakukan oleh anak setiap harinya.
4.
Anak
yang Pemalu
Penyebab
yang pertama biasanya dari anak itu sendiri, dan apabila tidak dirubah maka akan
selamanya anak tersebut menjadi pemalu terus, tetapi anak yang pemalu bukannya
tidak bisa, mungkin ada faktor lain contohnya dari dalam memberikan pertanyaan
anak itu biasanya malu karena bisa-bisa nanti apa yang ditanyakan salah atau
tidak rasional dan biasanya anak itu malu bertanya kerena takut ditertawakan
oleh teman-temannya.
5.
Anak
yang Malas
Hal
yang menyebabkan sehingga anak tersebut menjadi malas karena kurangnya daya
semangat dan motivasi dan kurang terkontrol di dalam lingkungannya sendiri khusunya
dari keluarga. Kadangkala anak semacam ini manja dan malas belajar dan berfikir
dan kurang kreatif, adanya minat belajar kurang dari pergaulan terlalu bebas
tak bisa di kendalikan karena pengaruh lingkungan terlalu bebas.
6.
Sulit
Memperhatikan
Penyebabnya
anak yang sulit memperhatikan yang sering kali dari faktor materi yang tidak
menyenangkan/ anak itu tidak suka terhadap materi yang diajarkan dan tidak suka
terhadap guru yang mengajar karena biasanya kalau murid tidak suka
memperhatikan sampai-sampai guru yang mengajar tidak di sukai. Sebaliknya kalau
materinya menarik dan anak suka otomatis gurunya pun di senangi.
7.
Berfikir
Lambat
Tidak
pernah mencoba untuk berfikir secara cepat ini juga di sebabkan perbedaan
character manusia ada yang daya pikirnya cepat ada yang daya pikirnya lambat(
split personality), lambat dalam berfikir,dan mengacu kepada lambat dalam
berprilaku,dan berusaha sesungguhnya merupakan penyakit fisik akibat dari
adanya disfungsi sel-sel otak, sekalipun gejala- gejalanya tampak dalam
pikiran, perasaan dan prilaku.
8.
Anak
yang Suka Membolos
Salah
satu penyebabnya adalah tidak suka terhadap materi yang di sampaikan terutama
pelajaran yang banyak di takuti siswa seperti pelajaran berhitung , matimatika,
fisika, dan kimia terutama bahasa inggris bagi anak yang tidak sekali minat
belajar bahasa.
9.
Anak
yang Suka Tidur di Setiap Jam Pelajaran
Penyebabnya
adalah: anak yang suka tidur biasa biasanya di sebabkan oleh pactor kebiasaan
apalagi kalau jam terakhir, dan suka begadang di malam hari sehingga anak itu
tida konsentrasi di dalam belajar. Dan biasanya guru jengkel melihat anak yang
suka tidur dan seorang guru memberikan semacam sangsi yaitu berupa berdiri di
depan kelas ada solusi yang lebih tepat dari itu.
B.
Solusi
yang Diberikan untuk Mengatasi Masalah Penyebab Siswa Mengalami Kegagalan
selama Proses Belajar Mengajar
1.
Anak
yang Sulit Memahami
Solusinya
adalah membuat dan membangun anak untuk biasa hidup disiplin dan mandiri maka
harus dimulai dari lingkungan keluarga secara khusus dan lingkungan sekitarnya
secara umum.
Kalau dari
lingkungan pendidikan anak itu di berikan pengulangan kepada materi yang belum
dia pahami / anak itu diberi penjelasan pelan-pelan sehingga anak itu bisa
paham terhadap apa yang belum di pahaminya.
2.
Anak
yang Bodoh
Solusinya
adalah selalu memberikan perhatian yang lebih kepada anak yang bodoh,
memberikan saran, motivasi dan selalu memberikan cara yang mudah di dalam
belajar agar mudah dipahami, dan memberikan cara yang terbaik sesuai denga
kemampuan anak itu sendiri.
3.
Anak
yang Nakal
Solusinya adalah pada dasarnya anak
semacam ini kurang terkontrol, baik dari lingkungan mereka atu dari tempat
mereka belajar. Pada dasarnya anak tersebut gampang diatur asalkan kita bisa
mendekatinya. Dengan cara seperti ini anak itu bisa diajak bicara baik-baik dan
perlahan-lahan akan luluh juga, ini berarti anak yang nakal itu bisa
diakibatkan dari kurangnya seorang guru melihat dan mengamati character anak
dan sifat anak itu sendiri. Pada dasarnya apabila anak itu sudah di dekati maka
anak itu akan manut dan patuh. Bukannya dia bodoh, banyak juga anak yang nakal
ini mempunyai batas kemampuan di atas normal malah mengalahkan anak yang rajin
berkompetisi di dalam proses belajar mengajar, jadi intinya kita harus memiliki
empaty kepada anak semacam ini harus kita dekati perlahan-lahan juga akan
sadar, dan di balik sifat anak yang nakal itu guru juga bisa belajar dengan
cara begini kita bisa mengatasi anak yang nakal lewat sebuah jati diri dari
sebuah pengalaman.
4.
Anak
yang Pemalu
Solusinya,
tidak segampang itu kita merubahnya. Ini perlu perlahan-lahan. Anak semacam ini
kita ajak belajar di ruangan terbuka dan kemudian dia bisa bertanya dengan
leluasa karena bebas. Bisa saja apa yang ditanyakan itu biasa-biasa saja,
tetapi lewat itu kita bisa melatih anak itu untuk bertanya supaya tidak malu
dan hal tersebut perlu dilakukan berulang-ulang sampai anak itu percaya diri.
5.
Anak
yang Malas
Solusinya
adalah anak seperti ini jangan di biarkan terlalu bebas dan jangan di biarkan
bermalas-malasan. Biasanya anak yang malas tidak tau apa yang harus dikerjakan
sehingga apa yang harus dikerjakan dia lalai dan lupa akan kewajibannya. Kita
bisa merubahnya dengan sebuah tindakan dengan memberikan sebuah stimulus yaitu
rangsangan sehingga anak itu bisa terpacu, dan diberikan nasehat yang bersifat
mendidik.
6.
Sulit
Memperhatikan
Solusinya anak harus di berikan
semacam rangsangan terlebih dahulu supaya bagaimana anak itu senang dulu dan
membangkitkan rasa keingintahuannya sehingga anak pada akhirnya memperhatikan,
karena guru memberikan metode belajar dengan cara menarik dan membangkitkan
rasa ingin tahu anak. Hal semacam ini melalui sebuah pengalaman kadangkala
kalau sudah guru melakukan yang menarik di dalam belajar anak pun sulit untuk
terlupakan entah bagaimana guru itu menyajikan pelajaran sampai anak selalu
ingat gerak gerik kita di dalam mengajar dengan cara itu anak senang dan mau
memperhatikan.
7.
Berfikir
Lambat
Solusinya
melatih otak untuk terus menerus untuk berfikir cepat dan menghapal cepat kalau
sudah terbiasa maka kebiasaan perfikir lambat akan hilang perlahan-lahan
intinya kita harus bayak menggali potensi otak selama ini yang kita miliki
yaitu meninggalkan hal hal yang lambat kita lakukan maka kita lakukan dengan
cepat dan tertata.
8.
Anak
yang Suka Membolos
Solusinya
salah satu jalan keluarnya adalah bagiamana seorang guru mampu mengkondisikan
kelas dengan baik atau mengorganisir siswa supaya siswa itu tertarik di dalam
belajar dan tidak membolos memang ini suatu hal yang sulit tetapi kita harus
terus mencoba. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah disetiap pelajaran anak
tersebut selalu diberika perhatian dengan cara dipanggil namanya. Seperti
akhmad tolong ambilkan saya absensi hadir di kantor, nah kemudian si akhamd di
suruh mengkoordinir kelas tersebut, dengan cara tolong di absen teman-temannya
dan bagi yang tidak masuk atau bolos di centang ternyata tidak ada yang bolos
terus menerus setiap jam pelajaran itu si akhmad berkewajiban mengabsen
temannya dan lambat laun dia tidak bolos lagi. Karena dia atau kewajibannya
setiap masuk kelas siswa di absen oleh dia.
9.
Anak
yang Suka Tidur Disetiap jam Pelajaran
Solusinya adalah
bagi seorang guru apabila ada anak yang tidur terutama pada saat jam jam
terakhir maka seorang guru harus bisa membangunkan anak dengan cara yang jitu
yaitu pintar membuat suasana jadi ceria yaitu dengan cara guru harus pandai
membuat gurauan yang bisa membikin anak itu jadi tertawa.
C.
Kondisi
Akhir yang Diharapkan Setelah Diberikan Solusi terhadap Masalah yang Terkait
Setelah diberikan
solusi terhadap masalah yang dialami peserta didik sehingga mengalami kegagalan
selama proses belajar mengajar, diharapkan:
1. Siswa
mampu memahami pelajaran yang diberikan oleh gurunya setelah diberikan
penjelasan secara perlahan-lahan terhadap hal apa yang belum dipahaminya.
2. Setelah
diberikan pendekatan oleh gurunya anak tersebut telah memiliki rasa percaya
diri untuk menanyakan sesuatu hal yang belum dimengertinya atau yang tidak
sesuai dengan pemahamannya.
3. Siswa
tidak malas lagi dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya setelah
diberikan semangat, motivasi, dan nasihat yang bersifat mendidik sehingga anak
tersebut tidak melukan kewajibannnya sebagai seorang peserta didik.
4. Terciptanya
motivasi siswa dalam belajar khusunya proses belajar mengajar yang berlangsung
dikelas dan memangkitkan rasa keingintahuannya.
5. Siswa
cepat tanggap terhadap sesuatu hal yang dipelajarinya.
6. Mampu
mengubah kebiasaan membolos siswa pada saat pelajaran berlangsung dengan
melakukan pendekatan pada siswa tersebut dan memberikan kewajiban unutk
mengkoordini kelasnya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
- Pada
dasarnya banyak hal yang menyebabkan sehingga anak tersebut mengalami
kegagalan selama proses belajar mengajar diantaranya yaitu anak sulit
memahami materi yang diebrikan oleh gurunya, anak tersebut nakal, tidak
mememiliki rasa percaya diri unutk menanyakan sesuatu yang tidak
dimengertinya, malas dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya,
tidak memiliki motivasi dalam belajar, sulit memperhatikan, memilki daya
serap dan daya ingat yang kurang, senang membolos pada saat pelajarn
berlangsung, dll
- Hal
tersebut bisa diatasi dengan memberikan solusi yang sesuai dengan masalah
yang alami oleh anak tersebut sehingga proses belajar mengajar dapat
berlangsung dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik
pula. Selain itu skala kegagalan yang dialami siswa dalam proses belajar
mengajar semakin sedikit dan lambat laun menjadi tidak ada.
B.
Saran
Sebaiknya
sebagai seorang guru harus cepat tanggap dalam menghadapi masalah yang dialami
oleh peserta didiknya, sehingga tidak menjadi berkelanjutan kerena masalah
tersebut dapat berakibat buruk jika tidak diberikan solusi yang tepat dan
cepat. Dengan demikian permasalahan tersebut dapat teratasi dengan baik dan tujuan pembelajaran yang inginkan
dapat tercapai dengan baik pula.
DAFTAR PUSTAKA
_________
Depdikanas. 2003. Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional. Jakarta:
Depdiknas
Hartono.
2009. Pendidikan. Jakarta:_________
Munandar,
Utami. 1999. Kreativitas dan Keberbakatan
Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar